Bandung Day #5: Manis

Ada yang bilang, kalau makanan di Bandung (Sunda, Jawa Barat) itu kebanyakan manis.

Dan memang setelah merasakan lima hari berada di sini, rata-rata makanannya cenderung manis. Bahkan sambalnya pun lebih berasa manisnya daripada pedasnya. Yah, setidaknya ini menurut penilaian orang yang biasa hanya tahu ‘rasa’ suka dan tidak suka. 😀

Continue reading “Bandung Day #5: Manis”

Bandung Day #4: One Way

Pertama kali tiba di Jogja untuk kuliah, berasa banyak nemu jalan satu arah (Jl. Urip Sumoharjo/Jl. Solo, Jl. Mangkubumi, Jl. Malioboro, Jl. Bhayangkara).

Pertama kali ke Solo untuk kerja, banyak nemu jalan satu arah juga (Jl. Slamet Riyadi, Jl. Rajiman, Jl. Honggowongso).

Waktu di Jogja atau di Solo, ada yang gak mau kalah, bilang kalo di Semarang lebih banyak jalan satu arahnya (Jl. MT. Haryono/Jl. Mataram, Jl. Dr. Cipto).

Nah, waktu mau berangkat Bandung, selain pesan yang satu ini, temen juga bilang, hati-hati kalau di Bandung, karena banyak jalan satu arahnya. (Terbukti sewaktu tiba di sini subuh-subuh, lihat banyak jalan dengan plang ‘forbodden’-nya. Sayang nama jalan tidak terbaca karena masih gelap).

Jadi kesimpulannya, semua kota di Indonesia itu, banyak jalan satu arahnya, ya? 🙄

Bandung Day #3: Memori dan Sepatu

Beberapa hari ini makan siang bareng temen-temen kantor, jadi teringat lagi masa-masa itu. Masa-masa waktu makan bareng di ruang makan yang (relatif) kecil dan gelap, keluar makan di Warung Kecil, maupun ngantri makan di ruang belakang karena jumlah yang mau makan tidak berbanding lurus dengan tempat yang tersedia.

Continue reading “Bandung Day #3: Memori dan Sepatu”

Bandung Day #1: Lontong Kari

Beberapa Fun Facts setelah tiba di Bandung untuk pertama kali, sejak terakhir kali mengunjunginya sewaktu mmm… SD mungkin (lupa persisnya kapan :P).

  1. Sarapan pertama yang disantap: Lontong Kari. Seperti lontong opor, hanya kuahnya seperti kuah kari. Dan ‘kari’-nya ya cuma kuahnya itu. Tidak ada (Kari) Ayam atau (Kari) Sapi-nya. 😮

  2. Harga makanan rata-rata sedikit lebih mahal daripada di Jogja (oke, ini memang relatif, tergantung tempat pastinya). Sebagai contoh, pecel lele di Jogja mungkin masih dapat 5-6 ribu, di sini 7 ribu. Kira-kira harganya sama dengan waktu di Solo (oke, ini menurut pengalaman pribadi, dan sekali lagi relatif terhadap tempat). 😉

  3. Akhirnya membuktikan sendiri bahwa ‘air putih’ di sini sama dengan ‘air teh’. Dengan kata lain, kalau makan, minumnya teh gratis. Meski tehnya tawar, gelasnya kecil, dan tanpa es. Tapi tetap saja, teh gratis. 😀

  4. Dingin. Lebih dingin dari Jogja dan jauh lebih dingin dari Semarang. Menyesal lupa bawa sarung/selimut ke sini. 😦

Well, semoga bisa terus update selama seminggu di sini. Hitung-hitung ‘ganti rugi’ karena bulan kemarin (September 2011) postingannya bolong sama sekali. 😳

Memperpanjang ‘execution time’

Sewaktu mencoba meng-import data dummy berupa XML di WordPress, mendapati error berikut:

Fatal error: Maximum execution time of 60 seconds exceeded in ..wp-includesclass-http.php on line 1105

Setelah mengutak-atik php.ini dan tidak mendapati perubahan, akhirnya mengubah baris berikut di httpd.conf:

SSLSessionCacheTimeout 300

menjadi:

SSLSessionCacheTimeout 1000000000

Sejauh ini tidak ada masalah dan upload pun berhasil.

Diposting sebagai pengingat pribadi. Sekaligus jika ada yang punya masalah sama.
Semoga membantu 😉

Dari JogLoSemar ke JogLongSemar?

Sebelumnya, dalam sebuah perjalanan di Prameks:

T: “Solonya turun mana, Mas?”
J: “Stasiun Balapan.”
T: “Ngasta teng pundi?” (kerja di mana?)
J: “Oh, kalau kantor ada di daerah X.”
T: “Ooo, asli Jogja ya, Mas?”
J: “Kalau aslinya malah Semarang.” (sambil tersenyum)
T: “Lho, lha terus … ?”
Continue reading “Dari JogLoSemar ke JogLongSemar?”