Yesus Tetap Beserta Aku

Sukacita lulus SMA Nita segera sirna saat dia mendengar teman-temannya segera mengalihkan pembicaraan kelulusan menjadi “melanjutkan kuliah di mana?”. Nita segera terdiam, bahkan secara perlahan dia melangkah pergi dari teman-temannya yang masih asyik membicarakan kelanjutan studi untuk jadi dokter, insinyur, ahli komputer, hakim dan …

Nita tahu bahwa dia seharusnya bersyukur karena dapat menyelesaikan SMAnya. Nita tahu bahwa seharusnya bagi seorang anak dengan orang tua yang berpenghasilan pas-pasan, lulus SMA sudah lebih dari cukup. Nita tahu seharusnya dia tidak sedih tetapi……, keinginan untuk sekolah lagi seperti teman-temannya apakah salah? Ah,… tidak… Aku tidak boleh sedih lagi, pikir Nita. Ia berusaha menenangkan hati sambil terus melangkahkan kaki pulang ke rumah.

“Bagaimana, Nit? Lulus ‘kan?” teriak ibunya ketika melihat Nita.
“Lulus Bu, Nita lulus,” Nita menjawab dengan datar.
“Puji Tuhan! Terima kasih Tuhan Yesus, anakku lulus SMA,” seru ibunya dengan sukacita.
“Nita kamu ganti baju saja, Ibu sudah masak makanan kesukaanmu, kita akan bersyukur bersama dan makan siang bersama. Ibu panggil Bapak. Pak, Nita lulus Pak…”

“Ibu begitu bersukacita, Ibu bahkan memasak istimewa dan mengajak berdoa bersama. Ibu begitu bersyukur, lalu kenapa aku ini? Bukankah aku seharusnya lebih bersukacita dari Ibu? Ya, aku harus berusaha bersyukur pada Tuhan Yesus,” renung Nita. Ia masuk ke kamar dan melipat tangannya berdoa sambil menangis, “Tuhan Yesus, ampuni aku, aku ini anak Tuhan yang tidak tahu berterima kasih, aku membuat Tuhan sedih dengan sikapku ini. Tolong aku Tuhan untuk dapat menghadapi keadaan ini dengan sukacita. Aku percaya Tuhan dekat aku dan beserta aku. Amin.”

“Nita, kamu kenapa Nak?” tanya Bapaknya.
“Pak, …,” Nita bingung menjawabnya.
“Mau cerita sama Bapak?” Bapak mengelus rambut Nita.
“Aku…… aku…,”
“Bapak tahu, kamu pasti ingin sekolah lagi ya…,” Bapak menghela nafas panjang.
“Maafkan Bapak, Bapak tidak dapat membiayaimu lagi Nit, maafkan Bapak.”
Nita kaget… mendengar ucapan Bapak yang menyesal dan merasa bersalah.
Nita melihat Bapaknya menunduk sedih.
“Bukan, ini bukan salah Bapak… Maafkan Nita Pak, maafkan Nita. Ini bukan salah Bapak…,” sesal Nita.

“Kenapa ini? Nita menangis, Bapak sedih, kenapa ini? Bukankah hari ini hari gembira?” Ibu masuk lagi ke dalam ruangan.
“Gak pa pa Ibu, gak pa pa. Nita salah karena Nita membuat Bapak sedih. Ayo kita makan, Nita kepingin segera makan bakso tahu buatan Ibu. Ayo…”

Nita berlari keluar, Bapak berkata-kata lirih pada Ibu sambil melangkah mengikuti Nita keluar. Ibu, Bapak duduk di meja makan, menyusul Nita yang telah duduk terlebih dahulu.

“Nita boleh berdoa?” kata Nita melihat ada kesedihan di wajah Bapak dan Ibunya.
“Tuhan Yesus, Nita berterima kasih, karena Tuhan Yesus memberikan Bapak dan Ibu yang baik buat Nita. Nita berterima kasih karena hari ini Nita lulus sekolah. Nita mau serahkan diri Nita kepada Tuhan Yesus, Nita percaya Tuhan Yesus ada dekat Nita dan selalu beserta Nita, Amin.”

“Bapak, Ibu maafkan Nita, jangan sedih. Kita percaya Tuhan Yesus baik. Ya ‘kan?”
“Ya Nita, kita percaya. Dah yuk, mari makan.”

***

Setelah lulus Nita bekerja sebagai pelayan toko. Nita menjalani pekerjaan dengan sukacita. Nita berusaha tetap senyum ketika boss marah-marah. Nita berusaha tidak iri, ketika melihat teman-temannya kuliah. Nita berusaha bersikap baik pada teman sekerja dan orang-orang yang datang ke tokonya.

Satu hal yang menarik, Nita memakai waktu istirahatnya untuk makan dengan cepat sehingga masih ada waktu untuk baca Alkitab dan aneka renungan harian. Kadang-kadang Nita menulis cerita yang dia alami hari ini dan akhirnya dia memilih 10 tulisannya untuk diserahkan pada Ibu Pendeta.

“Ibu Pendeta, Nita bisa minta tolong?” suatu kali Nita bertemu Ibu Pendeta.
“O, tentu bisa, apa yang dapat Ibu lakukan?” balas Ibu Pendeta.
“Nita membuat 10 tulisan seperti renungan harian, tolong tulisan-tulisan itu diperiksa, ya? Kalau ada yang salah dicoret saja, nanti Nita betulkan,” pinta Nita.
“Wah, menarik sekali. Baiklah. Ibu bawa dulu, ya. Nanti dua hari lagi kita ketemu di gereja, ok?” jawab Ibu Pendeta dengan senang hati.
“OK, Bu!” balas Nita dengan bersemangat.

Ibu Pendeta segera mengoreksi 10 tulisan Nita. Tulisan itu menjadi menarik karena dibuat dari pergumulan Nita. Dan, setelah lewat dua hari seperti yang dijanjikan,

“Nita, setelah Ibu baca, tulisan Nita tidak ada yang salah. Dan menurut Ibu, ini sangat menarik. Karena dari sini Ibu bisa belajar bagaimana cara Nita menghadapi berbagai masalah hidup bersama Tuhan. Bagaimana kalau tulisan yang baik ini dikirim ke penerbit renungan harian supaya banyak orang mendapat berkat dari tulisan Nita?” saran Ibu Pendeta.
“Baik, Ibu. Terima kasih,” Nita pun makin bersemangat.

Nita mengirim 10 tulisan itu ke berbagai penerbit. Lama Nita menunggu, tapi dia menjalani dengan sukacita.

Suatu hari ada kabar bahwa ada dua tulisannya yang akan dimuat di renungan, Nita senang sekali. Nita bertambah senang ketika dia menerima tawaran untuk menulis secara rutin.

Melihat antusias dan tulisan Nita, akhirnya pihak Penerbit meminta Nita untuk bekerja sebagai penulis tetap di Penerbitan tersebut. Dan untuk melengkapi kekurangan Nita, Penerbit tersebut membiayai Nita untuk kursus komputer dan akhirnya menyekolahkan Nita di sekolah khusus untuk Penulisan.

***

Nita bersyukur. Tuhan ada dan menolong Nita. Tuhan memang tidak kelihatan karena telah naik ke Surga, tetapi penyertaan dan pertolongan-Nya tak pernah berhenti untuk anak-anak-Nya. Jalani tiap kesulitan dan hal yang tidak enak dengan sukacita dan terus berdoa karena Tuhan tidak pernah meninggalkan kita.

Jesus Taken Up
Yesus terangkat ke Surga

***

Note:

  • Sumber: Kesaksian Jemaat GKI Sangkrah Solo yang disampaikan Pdt. Lanny Sri Maryani H., S.Th pada Kotbah Minggu, 9 Mei 2010 jam 16.30 di GKI Ngupasan Yogyakarta.
  • Diolah kembali oleh Kakak Sekolah Minggu GKI Ngupasan.
  • Disampaikan kepada Anak Sekolah Minggu GKI Ngupasan via sosio-drama pada Ibadah Padang GKI Ngupasan dalam rangka memperingati hari Kenaikan Tuhan Yesus pada Kamis, 13 Mei 2010.
  • Gambar diambil dari sini.

Published by Eric Gunawan

Happiness Engineer. WordPress Ambassador. Remote Worker. Soccer News Follower. Movie Lover. Proud Father. Lucky Husband.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: