Fitness for the First Time

Seberapa sering Anda fitness? Rutin? Kadang-kadang? Belom pernah sama sekali? Atau baru pertama kali mencoba? Nah, saya termasuk golongan yang terakhir.
Saya berkesempatan mencoba fitness untuk pertama kali karena ada fasilitas kantor.
Lalu apa yang biasa dilakukan oleh orang yang baru pertama kali fitness?

Terima kasih untuk Mas-mas instruktur yang telah membantu saya. Tempat saya fitness sengaja tidak disebutkan di sini karena untuk menjaga kerahasiaan dan independensi saya sendiri lupa nama tempatnya apa. Yang jelas letaknya hanya selisih beberapa rumah dari kantor.

Berikut ini adalah pengalaman fitness pertama saya.

Pertama, latihan untuk otot bahu. Alat yang digunakan adalah dua pasang barbel kecil @ 1 kg. Masing-masing barbel dipegang di tangan kanan dan kiri dengan posisi lengan atas (bahu sampai siku) lurus menyamping, sementara lengan bawah (dari siku sampai pergelangan) lurus ke atas. Jadi kedua tangan seperti membentuk huruf U. Lalu gerakan yang dilakukan adalah dari posisi awal ini, kedua tangan diluruskan ke atas kemudian diturunkan lagi dan seterusnya. Ini dilakukan dalam hitungan 3 x 12 (maksudnya 3 set @ 12 hitungan).

Kata Masnya, gerakan ini untuk membentuk otot bahu kita sehingga bisa membulat seperti Spiderman. Dalam hati saya bertanya,

Wah Mas, habis ini bisa merayap di dinding dan melompat di antara gedung tinggi gak, ya?

Latihan selanjutnya untuk membentuk sayap. Ya, benar Anda tidak salah baca dan saya tidak salah ketik. Saya juga baru tahu kalau kita sebagai manusia biasa punya “sayap”. Posisi awal adalah menekuk lutut kiri dan menaruhnya di atas sebuah kursi panjang. Sementara kaki kanan lurus ke belakang membentuk sudut elevasi kira-kira 45 derajat dan tubuh bagian atas juga mengikuti sudut ini sehingga secara keseluruhan tubuh kita miring 45 derajat terhadap lantai. Untuk menjaga keseimbangan, tangan kiri, dengan posisi telapak tangan membuka, menapak pula di kursi. Lalu dengan menggunakan tangan kanan, saya mengambil barbel kecil (2kg) yang terletak lantai, “menarik”-nya ke atas dan menurunkannya kembali. Gerakan ini diulang sebanyak 3 x 12 dan bergantian dengan tangan kiri.

Kalau Anda kesulitan membayangkannya, coba apakah Anda pernah pergi ke tambal ban? Nah, pernah liat ke tukang tambal ban berusaha menghidupkan mesin diesel / genset yang berfungsi sebagai pemompa ban atau penambah angin? Dia pasti “menarik” tali atau semacamnya untuk memancing agar mesin bisa hidup, bukan? Nah, kira-kira seperti itu lah. Setelah latihan ini, kembali saya bertanya dalam hati,

Habis ini saya bisa terbang tinggi di udara bagai rajawali, gak ya? Atau malah saya sudah siap untuk alih profesi?

Berikutnya, sebagai akhir dari pemanasan, saya mencoba satu alat yang cukup besar. Besar bagi saya, karena sebelumnya saya cuma “bermain-main” dengan barbel yang relatif kecil. Alatnya kali ini mirip dengan alat untuk menimba sumur. (Pasti saat ini Anda sudah mulai menebak-nebak apa yang sedang saya pikirkan dalam hati).

Posisi awal adalah saya memegang sebuah batangan besi yang mirip dengan stang sepeda motor. Batangan ini tergantung di bagian atas dan terhubung dengan beban yang terletak di depan. Berikutnya, saya menarik batangan itu ke bagian belakang tubuh sampai saya duduk. Untuk memudahkan, kepala agak dimajukan ke depan agar tidak terantuk batangan besinya. Gerakan selanjutnya adalah kita melepas dan menarik beban tersebut berulang-ulang sambil tetap dalam posisi duduk. Saya melakukannya sebanyak 3 x 10.

Akhirnya setelah cukup melakukan pemanasan, saya mencoba alat yang terakhir, yaitu treadmill. Sudah lama saya melihat alat ini dan saya bermimpi untuk mencobanya. Akhirnya mimpi saya jadi kenyataan. Pertama kali menghadapi alat ini, cukup bingung juga menghadapi panel dan tombol yang begitu banyak. Meski saya ngakunya ahli IT, ternyata bingung juga dihadapkan dengan alat yang sepertinya canggih begini. Bukannya saya gak ngerti atau takut nyoba sendiri, tapi yang paling saya takutkan adalah kejadian yang seperti dialami Backkom. Pertolongan pun datang dan dengan dibantu sama Mas-nya saya melakukan setting-an awal. Cukup mudah ternyata langkah-langkahnya.

  • Pertama pilih mau menjalankan program apa; sebagai pemula disarankan untuk pilih yang Manual.
  • Berikutnya set umur kita; saya melakukan perhitungan singkat untuk mengurangkan tahun ini dengan tahun lahir saya
  • Set berat badan; sudah lama gak nimbang, jadi pakai perkiraan
  • Set berapa lama kita akan berlatih; saya set 15 menit

Dan setelah itu saya pun mulai beraksi di atas treadmill tersebut.

Lima menit berlalu, saya mulai bosan karena gerakannya cukup monoton. Saya pun mulai mencoba memainkan speed dan steep-nya, karena sudah PeDe dan belajar dari pengalaman Backkom. Tambahan lagi rekan kerja yang ikut fitness bersama berkata,

Latihan ini bagus lho untuk membakar lemak dan menurunkan berat badan.

Saya pun bersemangat untuk menyelesaikan latihan ini.

Kurang lebih pukul 18.00, karena tuntutan profesi, saya pun mengakhiri seluruh rangkaian latihan hari itu. Dan menurut saya, pengalaman pertama ini cukup menarik. Yang jelas saya tidak berharap ini menjadi pengalaman yang terakhir.

Published by Eric Gunawan

Happiness Engineer. WordPress Ambassador. Remote Worker. Soccer News Follower. Movie Lover. Proud Father. Lucky Husband.

6 thoughts on “Fitness for the First Time

    1. mending dilanjutin aja. klo gak rutin memang bisa bikin badan sakit. tapi sy sendiri udah gak lanjut lagi sekarang :mrgreen:

      ***

      Note:
      Komentar Anda dipindahkan ke sini secara manual dari lokasi asal di sini.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: